Mommy's World

My world about breastfeeding and parenting

Nice to meet you!

Owner @AuraBatik | Mompreneur - Vlogger - Blogger - Loves Cooking & WomenPreneurCommunity | Coffee Addict | caroline.adenan@gmail.com
Oline

What Read Next

Kenapa dan Kapan Seorang Ibu Butuh Me Time?



"Ih gimana sih, anaknya dititipin ke pembantu, ini malah enak-enakan ke bioskop sih?"
"Masa suruh mertua yang ngurusin anaknya sih, dia malah enak-enakan hangout arisan, ibu macam apa sih itu?"
"Ya ampun, sempet-sempetnya nonton, itu anaknya dititipin orangtua ya? Enak banget itu!"

Pernah denger komentar miring kek gitu gak sih? Dengernya ngajak gelut gak sih? ๐Ÿ˜€ Pasti pernah dong yaaa. Pengen rasanya napas sebentaaar aja, minimal entah sekedar ngelempengin kaki, atau mandi dengan kondisi pintu kamar mandi tertutup dan dengan leluasa, atau makan gak sisaan anak. Lha kok sisaan? Emang iya kan kenyataannya, biasanya mendahulukan kepentingan anak diatas kepentingan segalanya. Giliran kita bisa napas and melakukan hal apa yang kita suka sebentaaaaaar aja, dibilangnya kita enak-enakan tanpa mikirin anak?

Heloow, ibu juga manusia kalik! ๐Ÿ˜’

Kebetulan minggu lalu saya berkesempatan untuk ikutan ROOMPI dengan bahasan Tak Perlu Merasa Bersalah Ketika Moms Melakukan Me Time. Temanya pas banget dengan kondisi yang aku butuhkan saat ini. Pengen me time tapi kok perasaan selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah sih?


Karena ibu yang bahagia adalah kunci dari keluarga yang bahagia.

Sepakat ya? Terdengar sepele, tapi memang itu sebenarnya faktanya. Keluarga bahagia bila seorang ibu bahagia. Nah, bagaimana seorang ibu bisa bahagia, ya upayakan supaya gak stres. Susah? Iyalah susah. Namanya juga jadi ibu rumah tangga. Udah capek ngurus anak, ngurus kerjaan rumah, masak buat suami, tapi kitanya gak boleh stres atas semua beban yang kita hadapi. Kita harus bisa management emosi.

Nah, hari Kamis 23 Januari 2019 saya berkesempatan ikutan room chat di Orami Parenting. Temanya adalah Tak Perlu Merasa Bersalah Ketika Moms Melakukan Me Time bersama sang expert  Retno Hayu Setuti, S. Psi. Hmm menarik ya. Apalagi kebetulan banget saya ibu rumah tangga yang memiliki 2 anak, minim waktu me time dan sangat rentan banget akan stress. Makanya saya happy banget saat Orami mengadakan bahasan ini.

Sekilas Tentang Sang Expert


Retno Hayu Setuti S. Psi, atau yang biasa disebut dengan mba Retno atau Dita ini adalah seorang psikolog. Beliau adalah lulusan fakultas psikologi Universitas Gajah Mada. Saat ini mba Dita praktik di Wiloka Workshop.

Retno Hayu Setuti S. Psi

Ibu Juga Manusia


Pernah dengar gak, kalau seorang ibu itu gak boleh sakit, kalau sampai sakit, seharusnya sakitnya belakangan, tapi sehatnya harus duluan ๐Ÿ˜


Trus bangun pagi juga kudu bangun lebih pagi dibanding penghuni rumah, supaya apa? Supaya bisa menyiapkan makanan untuk keluarga.


Jangan lupakan bahwa seorang ibu itu juga manusia, bisa saja sakit, bisa lupa, bisa khilaf, bisa capek. Manusia itu mahluk biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Ada beberapa masalah kesehatan tertentu yang tidak tepat jika ditangani hanya dengan pengobatan medis saja, seperti kelelahan, pikiran, bosan, konflik diri, dan juga emosi.


Terkadang sakitnya seorang ibu itu gak butuh obat, cuma butuh dipijat atau perhatian dari suami ๐Ÿ˜


Psikofisiologis 


Pahami dulu bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan utuh. Kondisi fisik sangat mempengaruhi psikis. Kondisi psikologi mempengaruhi fisik.  Jadi kalau tubuh sakit, pasti pikiran kita juga merasa sakit. Terkadang secara fisik kita merasa sehat wal afiat, tapi for honestly jiwa kita merasa CAPEEEEEK SEKALI ๐Ÿ˜’ gak mood ngapa-ngapain. Mau ini itu ngerasanya gak enak, maunya ngomel-ngomel melulu (senggol bacok, sensi tingkat tinggi). Nah menurut mba Dita, bisa dipastikan bahwa itu suatu indikasi bahwa kita sedang gak sehat secara psikologis. Yah, istilahnya capek mental deh.

Berbagai Gejolak Jadi Ibu


Saat masih single, mau kemana-mana hayo aja, suka-suka. Saat sudah menikah, masih happy-happy aja kemanapun disuka, tinggal make a plan sama suami kesayangan, cuss berangkat. Tapi kalau sudah ada anak, sudah gak bisa semudah itu. Ada beberapa aspek yang harus kita pikirkan. Apakah tempat yang kita tuju ramah bayi atau anak atau gak? Kalau gak, ditinggal di rumah dong? Sama siapa? Siapa yang jaga?

Akibatnya dengan sendirinya rutinitas kita akan berubah 180°. Mulai dari jam tidur, jam bangun, kebiasaan-kebiasaan jogging pagi hari saat weekend, semuaaaaa bisa berubah. Contohnya saya nih, kalau anaknya sudah balita, gak depends kita banget, CFD-an pagi-pagi masih bisa. Tapi kalau masih punya bayi, berangkat pagi-pagi CFD-an, hohoo tidak semudah itu ๐Ÿ˜

Kalau ternyata mommies bukan tipikal yang bisa mudah beradaptasi, terbiasa bangun pagi, hal-hal sepele ini bisa jadi masalah lho.

Konflik rasa bersalah antara diri sendiri dan anak atau keluarga.

Ngerasa gak punya waktu buat keluarga.

Ngerasa jadi gak setia kawan karena setiap diajak kumpul selalu nolak ada ajaaaa alasannya. Belum nyiapin makanan suami, anak, dll.

Secara tidak langsung hal-hal diatas bisa menyebabkan kita jadi tertekan ๐Ÿ˜’

Tentang Management Waktu


Beberapa working moms selalu bermasalah dengan pengelolaan waktu. Saat anak-anak libur, tapi mommies lagi sibuk-sibuknya.

Atau misalnya kitanya lagi free time dan bis cuti, eh anak kita justru lagi ujian semesteran ๐Ÿ˜ญ

Pusiiing, rasanya pengen punya kalender sendiri, jadi bisa ngatiur sendiri kapan bisa libur bareng anak-anak. Belum lagi kalau moms yang LDR-an sama suami atau anak-anak. Rasanya tetep gak maksimal main sama anak-anak. Kalau anak kita diboyong ke tempat kerja, kok rasanya gak mungkin banget ya, secara gak ada pengasuh. Yang ada malahan ngengerecokin kerjaan kita ki
kia.

Jadi Fulltime Working Mom


Berpotensi memunculkan gejolak hidup dan stress pada ibu. Ngurusi anak buah lebih melelahkan daripada ngurus anak sendiri. Belum lagi kalau sama-sama bad mood.

Fulltime working erat banget kaitannya dengan nyinyiran orang, kok waktunya habis di kantor, dianggap gak mampu mengasuh anak, dianggap gak puas sama rejeki suami, hal-hal demikian yang berpotensi bikin moms stress.

Jadi Stay at Home Mom


Gak beda jauh sama working mom, jadi SAHM, juga bukan perkara mudah. Sangat berpotensi juga dengan stress. Sehari-hari ya berkutat dengan pekerjaan rumah dan hal-hal lain  yang tak kunjung usai, gak pernah bisa keluar rumah, semua rutinitas dan hobby tidak bisa sepenuhnya dilakukan lagi ๐Ÿ˜–

Lalu, Mengapa Seseorang Bisa Stress?


Menurut moms kenapa? ๐Ÿ˜

Biasanya karena daya tahan tubuh (fisik) yang lemah. Ketika daya tahan tubuh kita gak baik, maka kemungkinan kita mendapatkan tekanan akan jauh lebih besar.

Jiwa kita tidak kuat, gak tahan banting, pengelolaan diri juga kurang kuat. Kita terbiasa memendam kemudian meledak sometime.

Kemudian persepsi terhadap pengalaman. Ini terjadi karena pengalaman di masa lalu, atau jika kita belum pernah mengalaminya, biasanya karena dengar cerita dadi orangtua kita di masa lalu, kemudian kita percaya akan hal itu.

Terkadang keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak standard-standard kehidupan yang kita anut, sama halnya seperti keinginan vs kenyataan tadi, beberapa standard hidup yang menurut kita ideal belum tentu bisa kita wujudkan. Misalnya aja nih, jadi ibu yang baik itu harus bisa masak di rumah buat anak-anak dan keluarganya. Tapi kenyataannya, karena harus bekerja, boro-boro bisa masak, sampaj rumah aja udah malem banget, sudah lewat jam makan malam, jadinya ya mau gak mau pesen makanan via online.

Kalau gak kuat-kuat iman, maka stigma aku ibu yang gak baik karena hobbynya delivery order, bisa menancap kuat dan membuatkita jadi depresi.

Tadinya mau prepare buat makan malam keluarga yang lezat dan bergizi, yang ada kita malah uring-uringan trus gak selera buat makan ๐Ÿ˜ฅ

Mengelola Situasi Hidup Yang Penuh Tekanan.


Stress itu adalah bagian dari kehidupan yang gak bisa kita hindari. Pengelolaan stress bersumber kepada bagaimana menghidupi situasi yang menimbulkan stress.

Kita harus menemukan cara bagaimana bisa meningkatkan hidup kita supaya lebih berkualitas dan sejahtera. Kita harus menemukan 'vitamin' untuk pikiran dan emosi. Dan salah satunya adalah Me Time.

Apa Itu Me Time?


Salah satu dari problem focus adalah ketika me time dilakukan untuk aktivitas mengurangi persoalan misalnya reflexy, body massage, atau tidur karena sudah tidak ada energy, itu normal aja kita lakukan.

Me time banyak manfaatnya lho, bisa menjadi pengelolaan stress emotional focus yaitu dengan mengikuti meditasi, yoga, salon atau membaca buku. Me time memberikan ruang untuk jeda dari semua kegiatan yang berurusan dengan dunia diluar diri sendiri.

Dealing with Problems


Salah satu cara menghadapi stress adalah dengan kita belajar mengelola permasalahan, kita cari jalan keluarnya. Kita pikirkan solusi atas permasalahan. Menggunakan tindakan secara hati-hati. Melakukan negoisasi. Mencari bantuan professional.

Dealing with emotion


Menghadapi stress kita bisa dengan belajar mengelola emosi diri sendiri, kita belajar menata hati. Ketika menghadapi permasalahan lebih mengelola emosi. Kontrol emosi. Mencari pemaknaan atas permasalahan >> nah ini sayapun juga belum tau, pemaknaan atas permasalahan yang bagaimana sih?

Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun perjalanan pernikahan saya dan suami, sampai saat inipun saya masih terus belajar, belajar menata hati. Itu ternyata sulit ya ๐Ÿ˜’

Nyatanya yang sering terjadi adalah banyak yang melarikan diri dari masalah, meminimalisasi, dan menyalahkan diri sendiri.

Gimana Caranya Kelola Stress?


Pertama, kenali baik-baik kondisi tubuh kita. Kenali reaksi fisiologis tubuh saat dalam kondisi underpressure. Lalu lihat akibat apa yang terjadi saat tubuh mengalami underpressure tersebut.

Mengerti dan mengenali diri sendiri.

Kita kenali emosi yang kita rasakan.

Pikiran-pikiran yang muncul sebaiknya dilakukan dialog internal. Tanyakan ke diri sendiri, kenapa saya seperti ini? Apa yang bisa membuat diri saya bahagia dan happy lagi? Apa yang menjadi masalah?

Bagaimana Melakukan Me Time tanpa Rasa Bersalah?


Sering gak sih kamu ngerasa me time tapi perasaan dibayang-bayangi perasaan bersalah? Bersalah karena kita udah enak-enakan diluar rumah, sementara suami dan anak-anak di rumah, seakan-akan kita berhepi-hepi diatas kesedihan oranglain.

Kalau saya sih, sering ๐Ÿ˜

Menurut mba Dita, cara yang bisa kita dilakukan :

  1. Bangun dukungan dengan suami untuk melakukan me time. Bekerjasamalah dengan suami.
  2. Lakukan aktivitas me time dengan tidak berlebihan. Indikatornya apa? Yang pasti tidak sampai mengganggu ekonomi keluarga dan gak usah terlalu lama. Me time gak usah sampai liburan juga keluar negeri ๐Ÿคญ๐Ÿ˜
  3. Siapkan support system
  4. Kalau anak-anak sudah bisa diajak berkomunikasi verbal, seandainya mereka bertanya, sampaikan apa adanya. Lalu dengarkan responsnya. Percayalah bahwa anak itu luar biasa dan bisa memberikan support.

Kapan Sebaiknya Melakukan Me Time?


Ketika ada significant other yang bisa dipercaya dan diandalkan.

Diluar hari keluarga.

Ketika tubuh sudah mulai memberikan 'sinyal'. Jadi sebelum tubuh kita terlalu capek, lakukan sesegera mungkin.

Idealnya kita bisa jadwal rutin dalam interval 1 bulan.

Temukan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia? Kenapa hal kecil? Karena ketika kita sedang gak dapat melakukan me time impian, kita masih bisa melakukan me time dengan hal-hal sederhana. Misalnya window shopping aja, makan mie instan favorit, beli kopi atau boba favorit. Lalu menikmati tanpa gangguan anak-anak.

Intinya kenapa seorang mommies harus me time? Karena ibu yang bahagia adalah kunci dari keluarga bahagia ☺️

Semoga artikel saya bisa bermanfaat ya.
Terima kasih yang sudah mampir.

Comments

  1. yapp, pentiiing banget untuk melakukan hal2 yg bisa bikin ibu tetap bahagia dan waras :D

    Aku sekarang masuk fase kagak peduli dg komentar orang, Mba
    Karena bisa bikin emosi jiwa dan ajak baku hantam :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena ibu juga manusia, punya hati, punya rasa, punya emosi
      Halaagh jadi nyanyik ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†

      Delete
  2. orang luar gak tau apa yang terjadi di dalam rumah kita ya cuma bisa komplain aja. Ninggalin anak sekali dipikir gak ngurus anak dll. Cuma ibu itu sendiri yang tau kapan bisa me time yang lain gak usah ikut campur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, terkadang org hanya melihat kulit luar kita aja, padahal gak tau kita udah berjuang sekuat tenaga utk bisa barang sebentar buat istirahat ngelempengin kaki atau minimal mandi dengan tenang aja susah.

      Delete
  3. Dukungan suami itu kunci kebahagiaan yang tiada tara. Mau sebentaaaarr aja handle anak-anak, duuuh surga rasanya ya Lin. Kan bagi seorang ibu tuh ga menuntut suami jaga anak-anak terlalu lama. Yang penting kita bisa selonjoran atau pergi kemana sebentar gitu aja udah cukup. Kitanya juga kalau kelamaan malah worried kan mikirin anak-anak di rumah. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, support system internal dari suami, thats more important.
      Ya bikinnya berdua, ngurusnya juga kudu berdua ya kaaan ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ฌ

      Delete
  4. jaman boyz masih piyik, me time itu berharga banget walo sekejap. udahannya bisa fresh n semangat lagi berkutat dng riweuhnya urus rumah n boyz.

    kalo skr si bungsu udah sd, waktu me time jadi lebih banyak dan worthed banget karena seiring dg badan yg makin jompo hihihihi

    ReplyDelete
  5. Gejolak ketika menjadi seorang ibu emang banyak mbak. Jangankan soal omongan orang yang melihat seorang ibu sering pergi dan anaknya dititipkan ke ortu atau suami, lah, jadi working mom atau ibu rumah tangga saja jadi cibiran orang. oh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mba, kita kan gak bisa selalu menyenangkan hati orglain ya mba. Yg bisa kita lakukan adalah menutup rapat2 kedua telinga kita dr cibiran orang2.

      Delete
  6. Sejujurnya, belum pernah ada yang ngomong gitu langsung ke saya. Entahlah kalau kasak-kusuk di belakang hehehe. Tapi, saya juga termasuk lempeng sih. Bodo amat lah orang mau ngomong apa. Selama suami dan orang tua saya aja gak rese sama hal begini.

    Tetapi, saya memang suka denger atau baca kisah-kisah orang yang nyinyir begitu. Memang nyebelin, sih. Apalagi kalau kitanya juga lagi baper.

    Buat saya me time itu penting banget. Kalaupun lagi gak bisa ke luar rumah, cukuplah dengan punya waktu sejenak untuk nonton serial favotir di tv sambil ngopi tanpa ada gangguan.

    ReplyDelete
  7. Kadang di rumah pun bisa jadi me time untukku, apalagi dengan menikmati apa yang ada di rumah saja. Seperti nonton Netflix dengan minum kopi atau teh sambil nunggu anak pulang sekolah. Atau kadang bebas tugas urusan rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, apapun bisa jadi me time. Di rumahpun bisa.
      Saat hati kita merasa plong, bahagia, relax, nah disitulah sebenarnya me time kita. Walaupun cuma sekedar mandi and luluran tanpa gangguan :)

      Delete
  8. Bener banget sih, Mbak.. Saya, sayangnya ngga punya keluarga yang bisa dititipi anak, jadi ke mana-mana ya harus dibawa sekalian. Kalau ada keluarga mah, pengen gitu nonton berdua, wkwkwk.. Selama ini, meski cuma makan di luar, playdate sama temen-temen yang lain, itu juga bisa jadi obat sih. Bahkan saya pernah ke salon sambil bawa baby, haha... Alhamdulillah ibu salon langganan sangat paham kondisi pelanggannya. Jadi, sambil facial sambil nenenin, wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooow facial sambil nenenin?luaar biyasaaak :)))

      Delete
  9. Aku sepakat siapapun ibu pasti butuh me time. Walaupun mnurutku hal sederhana aja. Misalnya pas anak sekolah kita bisa jadi tim rebahan, tim drakor atau bengong. Hahhaa. Intinya emang ibu harus bahagia

    ReplyDelete
  10. Sepakat, Mbak. Ibu juga manusia yang butuh refreshing dan punya me time. Supaya tetap waras dan bahagia.
    Ibu bahagia pastinya keluarga juga bahagia

    ReplyDelete
  11. Saya yang paling sering itu merasa bersalah membatalkan janji karena anak. Tapi ya memang sebagai ibu kita butuh me timw banget. Kalau ga ya stress sendiri.

    ReplyDelete
  12. Aku pernah dibilang sama temanku bapak-bapak gini: nggak mau ditinggal anak jauh-jauh tapi suka ninggal-ninggalin. Duh aku langsung terdiam seribu bahasa. Itu nyelekit banget. Padahal kan urusanku sebagai pekerja sekaligus blogger ya beda dengan ibu-ibu biasa yang terus-menerus di rumah jagoan anak. Apalagi jadi travel blogger yang kerjaannya harus jalan-jalan. *numpang curcol jadinya.

    ReplyDelete
  13. Dulu gak kenal me time. Padahal dua anak jarak usianya dikit banget. Jadilah masa anak2 kicik aku seperti menghilang dari peredaran, kata beberapa teman. Dari kantor, masuk rumah, sudah... Dan aku merasa aku lumayan tertekan saat itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Me time itu sbenarnya penting, supaya pikiran kita gak stress sih.

      Delete
  14. Aku hampir ga pernah me time ke luar mba
    Me time ku bobok nyenyak tanpa diganggu banyak orang udah berguna banget itu buat me time sejenak๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidur bobo nyenyak juga bisa jadi me time yang paling murah meriah ya.
      Langka bgt emang kalo dah bisa tidur tanpa gangguan siapa2 :)))

      Delete
  15. Seorang ibu butuh banget me time ya mbak, aku juga bisa gila kalau gak me time. Kdng suka meluar sendiri walau sekadar ke toko buku liat2 doank haha. Tiap sabtu skrng aku selalu jalan sendiri soalnya hehe.
    Bener kadang gak butuh apa2 sih cuma butuh ada suami di rumah kyk semacam dukungan moril biar bisa mencegah tantrumku hahaha. Yg penting jalani hidup jd ibu dengan happy, cuekin aja sekitarnya mau bilang apa

    ReplyDelete
  16. Topiknya menarik sekali mba...menampung curhatnya ibu2..
    Me time itu penting juga sih mba menurutku..soalnya klo dituruti, beneran 24 jam nggak istirahat para mamaks itu...ada aja yang mesti dikerjain/dipikirin.

    Aku klo lg pengen me time, klo orang Jawa bilang ndablek. Cuek. Biarin, masa bodo mau dikomentari apa...yang penting mau istirahat sejenak

    ReplyDelete
  17. Anakku dua-duanya udah sekolah, Mbak. Lumayanlah sampai jam 11 aku cuma sendiri di rumah. Kalau dulu waktu sendiri tak manfaatin buat nukis, sekarang tak pakek me time yang biasanya baca buku sambil minum kopi. Sebenernya makin gak produktif aku tuh. Tapi makin happy aja ngejalanin rutinitas. Karena setelah anak-anak pulang aku bth jadi setrong. Jadi kudu selow dulu mmpung gak ada anak.Emang bener sih, me time setiap ibu itu beda. Dan cara bahagianya pun beda-beda.

    ReplyDelete
  18. Baca ini berasa dipeluk virtual. Hug hug. Aku sendiri adl sahm yg msh labil dalam berdamai. I mean.. Aku orangnya perfeksionis. Aku jg enggak gampang lelah. Semua kerjaan domestik dikerjakan sendiri. Dan semua makanan home made. Never pesan2 go food. Plus juga aku orangnya super irit. Tapi tapi.. Sudah berusaha sekuat tenaga begitu kok ya ada aja yg suka nyinyir. Sakit banget. Apalagi orangnya gak bisa dihindari. Ada melulu. Dan ktk mau me time sejenak n micik HP ada aj yg ngomentari. Disitulah kadang aku lelah mau di kamar aja. Karena dunia luar kejam. Haha

    ReplyDelete
  19. Banyakin me time biar tetep waras buat mamak2. Hahhaa..
    Semoga kita bisa manage waktu minimal buat diri sendiri.
    Gimana pun seorang Ibu harus strong kaya wonder women .

    ReplyDelete
  20. Kerasa banget deeh...kalau abis me time ituh, kualitas hubungan Ibu ke anak-anak bahkan suami, jadi lebih nyaman dan rileks. Gak apa-apa nge-gas.
    Sekedar leha-leha, suami bagian jemur baju dan cuci piring aja, mashaAllah~
    Me time yang warbyasaaak.

    ReplyDelete
  21. dulu pas bayi, kalau anak udah gedean dikit udah bisa lebih berleha leha, eh ternyata engga hihi
    Me time emnang perlu banget, walau hanya sekedar jogging pagi pagi di taman sendirian menghirup udara baru, setelahnya kerasa ada energi baru

    ReplyDelete
  22. Penting banget tu me time untuk menghilangkan stress yang sudah menumpuk di pikiran kita.

    ReplyDelete
  23. Saya memegang prinsip "ibu yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia" karena itu emak-emak memang perlu membahagiakan dirinya dengan cara me time. Saat sudah refresh, baru deh kembali lagi ke anak-anak dengan perasaan lebih riang, gak marah-marah mulu kerjaannya hihihi.

    ReplyDelete
  24. saya banget nih, dulu sering ngerasa bersalah kalau harus nginap di luar karena urusan kerjaan. Tidur di kamar yang nyaman, sarapannya banyak banget pilihan menunya. Terus kepikiran di rumah, suami masak apa ya buat anak-anak. Apalagi kalau lalu ada yang nanya "kalau di tinggal gini, anak-anak sama siapa? makannya gimana?"

    Padahal lho anak-anak di rumah baik-baik saja, malah kesempatan bonding sama papanya lebih banyak, malah seneng karena suami suka eksperimen masak yang (menurut saya) aneh-aneh, tapi kata anak-anak rasanya spesial.

    Alhamdulillah, sekarang bisa cuek aja kalau ada yang komentar. Nikmati aja bisa nginap di hotel dan banyak makan hehehe....

    ReplyDelete
  25. Aku tuh ya kalau mau me time keinget banyak hal. Keinget anak, suami, padahal tubuh rasanya sudah remuk redam heuheu. Juga suka kepikiran rasa bersalah padahal mungkin suami bakal oke-oke aja sih. Cuma akunya aja yang mikirnya terlalu jauh, hehe.

    ReplyDelete
  26. Me time itu penting buat ibu, supaya ga mudah stress juga. Ingat banget waktu anak-anak masih di Jakarta, belum kerja, urusan rumah, ngururs dua balita sesuatu banget. Ada support sistem dari suami membantu banget. Kadang suka kasih waktu aku buat me time juga. Misalnya istirahat atau nonton drama Korea tanpa gangguan hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *