My world about breastfeeding and parenting

Thursday, April 4, 2019

Welcome to The World, Carissa..



Moms, perjalanan setiap anak pasti memiliki jalan cerita masing-masing. Sama seperti Carissa Masayu nih moms, lahiran di usia 40 minggu lebih 3 hari, dengan durasi cuma 3 jam 😁✌️ Padahal semalam sebelumnya sudah berencana untuk induksi alami. Induksi alami belum sempat terlaksana, udah lahiran duluan 😁

Kok bisa?

Nah begini cerita lengkapnya. Ohya sebelumnya, di postingan saya kali ini cukup panjang ya.

Di kehamilan saya yang ketiga ini, bisa dibilang cukup santai, sampai-sampai saya suka lupa saya sudah hamil bulan ke berapa 😁. Karena memang dari awal kehamilan saya benar-benar menikmati semua momennya.

Seperti halnya saat persalinan tiba 😊

23 Maret 2019

Saya control ke dokter obgyn tanggal 23 Maret 2019. Hasil control semua bagus. Kondisi air ketuban masih berwarna gelap, levelnya masih di angka 13. Masih aman. Lokasi plasenta juga bagus.  Berat badan bayi 3,1 kg.

Nah dokter obgyn saya bilang, saya disuruh menunggu hingga duedate tiba. Due date saya tanggal 26 Maret 2019. Kalau sampai tanggal duedate saya belum ada tanda-tanda persalinan, saya disarankan datang lagi ke rumah sakit tanggal 26 atau 27 Maret 2019 lagi untuk dilakukan pemeriksaan dalam.

24 Maret 2019

Karena banyak yang menyarankan, akhirnya saya dan suami coba melakukan hubungan badan, sebagai langkah mempermudah proses pembukaan. Ternyata berhubungan intim saat usia kehamilan 40 minggu begini, bukanlah hal yang mudah ya moms. Kita bersama suami harus berjuang orgasme. Sementara suami benar-benar gak bisa orgasme karena rangsangan dari sayanya juga kurang? Gimana mau orgasme, lha wong tiap beberapa menit aja saya merasakan kontraksi? Jadinya berhubungannya banyakan ngelawak. Pokoknya lucu deh 😂 kalau diingat-ingat bikin saya ketawa lagi 😂

27 Maret 2019
Panik berat badan bayinya bertambah besar

Karena tanggal 26 Maret 2019 gak ada tanda-tanda apa-apa, hanya kontraksi palsu, saya memutuskan datang bersama suami untuk control kembali. Kondisi air ketuban saat itu sudah di level 11, dan berat badan bayi sudah 3,5 kg. Wah, nambah 0,4 kg dari terakhir kali control?!

Saat dicek pembukaan dalam, posisi kepala bayi sudah di jalan lahir (sudah turun), tapi sayangnya belum ada pembukaan. Padahal saya sudah nyeri banget setengah mati kayak orang lagi nyeri haid kalau lagi jalan 😫

So, karena usia kehamilan saya sudah 40 minggu lebih, kondisi kesehatan semua saya juga bagus (tensi darah normal, dan kondisi bayi sehat), saya bisa memilih mau kapan dilakukan induksi. Disarankan dokter sih dalam seminggu (sampai hari Minggu 31 Maret 2019). Jadi bisa sepulang dari control, atau bisa hari kamis, jumat terserah aja, bisa didiskusikan dengan suami terlebih dahulu, katanya.

Oke baiklah. Saya langsung pulang saat itu, kemudian lanjut diskusi dengan suami.

Wah, bakalan terulang seperti lahiran Narend nih, pikir saya dalam hati.

28 Maret 2019
Mencoba induksi alami

Hasil control dokter kemarin, benar-benar bikin saya kepikiran, yaitu kondisi air ketuban yang hampir warning dan berat badan bayi yang semakin bertambah?! 😮 Sebenernya sih air ketubannya kata dokter gak apa-apa, masih level aman, tapi sayanya kepikiran aja, karena saya takut terjadi apa-apa, karena yang namanya air ketuban kan kalau keluar kita gak tau? Lagipula kalau hamil sudah besar begini, air ketuban bisa keluar bersamaan dengan air pipis kan?

Saya sempat kepikiran untuk melakukan induksi alami. Nah, induksi alami yang mau saya lakukan waktu itu adalah, saya mau makan duren utuh. Tapi kondisinya saat itu jam 8 malam. Bisa aja sih malam itu saya coba makan duren, tapi katanya suami gak bisa langsung kelihatan efeknya, harus 2-3 hari sebelumnya. Hiks, option melalui durian, terpaksa dicoret dari list 😫

Option kedua, saya mau coba makan nanas. Ya, masih di malam yang sama. Lagi-lagi suami bilang, mau makan apapun, reaksinya gak bisa instan, paling gak ya tunggu sampai 1 harian deh. Lagipula saya juga suka nanas. Option makan nanas terpaksa saya coret lagi dari list 😫

Option ketiga, saya mau coba berhubungan badan dengan suami. Sebenarnya untuk cara ini saya paling ogah banget deh, karena ya gimana ya, namanya dalam kondisi hamil besar, disuruh berhubungan badan, harus orgasm juga, kan rasanya gak nyaman banget? Tapi daripada induksi di rumah sakit ya mending induksi alami oleh suami, kata orang-orang sih begitu.

Sebenarnya kami sebelumnya sudah coba berhubungan badan tanggal 24 Maret 2019, tepatnya beberapa hari sebelum control dokter, lebih tepatnya berhubungan badan dengan cara terpaksa kayak orang diperkosa 😃 yah demi ya, demi terjadinya kontraksi 😄

Nah, saat mau coba usaha kembali tanggal 28 Maret 2019 malam itu, ternyata organ genital suami (baca : penis) lecet, gara-gara dipaksa orgasm saat sebelumnya, dan belum sembuh. Suami juga menolak untuk berhubungan badan 😣 Yah daripada sesuatu yang dipaksakan hasilnya juga gak maksimal, akhirnya cara ini kami batalkan 😣

"Yaudah, kamu induksi di rumah sakit ajalah nanti. Soalnya induksi alami gak bisa." Begitu kata suami. Jadi rencana kami, ke rumah sakit jam 5 pagi. Cek CTG observasi bla bla 1 jam sampai jam 6 pagi. Mulai induksi jam 7 pagi (setelah administrasi selesai). Proses induksi selama 6 jam, jadi kira-kira saya lahiran yah bisa sekitar hari Jumat sianglah. Makanya diputuskan suami mau masuk kantor  setengah hari Jumat itu. Supaya gak terlalu banyak ambil cuti. Kami putuskan subuh saja ke rumah sakit, supaya proses pembukaannya gak tengah malam, bisa-bisa saya begadang deh, (pengalaman waktu lahiran Narend).

Saat itu kondisinya jam 8 malam. Akhirnya kami putuskan untuk tidur, supaya besok pas subuh kami bisa langsung berangkat, dan sayapun punya tenaga untuk proses pembukaan.

29 Maret 2019
Saat itu tiba..
Jam 00.00

Tepat jam 12 malam, (saya baru tidur sekitar 2 jam), tiba-tiba saya terbangun dari nyenyaknya tidur, melek seger banget, gara-gara perut saya  sakit, nyeriii banget, kayak orang nyeri haid, tapi sakitnya 3x lipat! Bukan kontraksi biasa yang saya rasakan. Kalau kontraksi kan perutnya kenceng-kenceng gitu yah, tapi ini gak, malahan nyeri banget?!

Dari pengalaman orang yang pernah saya baca, katanya kalau kontraksi beneran, itu rasanya perut kencang ditambah nyeri badan. Sakit nyeri di bagian seluruh perut. Frekuensinya setiap 10 menit sekali dan bertambah jadi cepat jadi 5 menit sekali dan durasinya selama 45 detik.

Oke, saya mulai pantau sakitnya. Yang tadinya waktu kontraksi palsu saya pakai aplikasi, tapi kali ini gak. Patokan saya hanya jam saja.

Nyeri pertama jam 00.10, kemudian nyeri lahi 00.20, kemudian 00.30, begitu terus, konstan selama 1 jam. Saya ngerasain nyeri itu plus mules. Saya jadi bolak balik ke kamar mandi, dikirain saya mau pup. Pas saya ke kamar mandi, gak mau pup juga.

Saya cek celana dalam gak ada flek sama sekali. Lendirpun gak ada. Wah, ini kayaknya kontraksi palsu yah? Tapi kok konstan banget tiap 10 menit sekali?

Start jam 1 malam, nyerinya bertambah cepat, jadi tiap 5 menit sekali. Jalan aja saya udah jongkok-jongkok, gak kuat berdiri. Saya udah mulai curiga, jangan-jangan?!

Lalu, saya bangunkan suami, karena perut saya nyeri banget gak tertahankan. Saya tanya, kapan sebaiknya kita ke rumah sakit? Karena kalau menurut pantauan saya, udah rutin nih sakitnya, tiap 5 menit sekali. Kata suami, kalau sayamya udah gak kuat, dan takut kenapa-kenapa, lebih baik kita segera ke rumah sakit. Kamu ganti baju sekarang juga!

Begitu kata suami. Dan akhirnya kami berangkat segera ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit jam 1.30 pagi. Kami langsung kasih surat pengantar ke bidan yang jaga disana. Saya langsung disuruh tiduran di ruang bersalin untuk diobservasi (CTG) selama 1 jam. Disitu saya ngerasain sakit nyeri ini semakin hebat!

Saya mulai dicek pembukaan dalam saat kontraksi itu datang. (Kalau boleh memilih saya mau dicek saat kontraksi itu mereda deh, soalnya gak enak banget) 😫 tapi gak mungkin, karena cek pembukaan dalam itu justru saat kontraksi itu datang.

...

"Ibu, pembukaannya sudah 5 ya bu. Segera ganti baju dan suami segera mengurus administrasi di lantai 1 ya bu."

Ohemji, udah pembukaan 5! Pantesan nyerinya udah hebat banget 😃

Saya dan suami jauh dari sebelum persalinan, kamu sudah memutuskan untuk kelas VIP saja. Alasannya karena lebih privacy (melihat pengalaman waktu lahiran Narend sebelumnya). Walaupun gak dibayarkan kantor, tapi rasanya lebih worth it kalau kelas VIP saja. Dan suami tidak menolak sedikitpun. Istrinya minta apa, diturutin aja. Padahal saat itu kondisinya keuangan kami tidak mumpuni untuk kelas VIP. Tapi demi kenyamanan istrinya, suami saya memberikan yang terbaik 😘

1 jam setelah pindah ke kamar bersalin kelas I/VIP, tiba-tiba bagian vagina saya ada yang mau ngajak keluar. Langsung saya minta tolong suami, untuk panggilkan suster. Susternya menyangka bahwa pembukaan 5 ke pembukaan 8, kira-kira prosesnya masih sekitar 4-5 jaman lagi, masih lama. Makanya semua peralatan belum disiapkan.

Akhirnya susternya ngecek kembali saya sudah pembukaan berapa saat kontraksi itu datang. Ternyata sudah pembukaan 7-8. Woww cepet banget! Samar-samar saya mendengar susternya bilang ke suster yang lain, "Cepat, tolong telpon dokternya untuk segera datang!"

Disitu saya ngerasa udah gak nyaman luar binasa. Bener-bener seperti ada yang mau mengajak keluar. Dari ujung mata saya, saya melihat susternya sudah menyiapkan segala peralatan bersalin.

"Ibu, miring ke kiri ya bu, supaya cepat pembukaannya, supaya bayinya memutar, sambil saya bantu dari dalam ya." (Jarinya suster menahan sesuatu yang mau keluar dari dalam).
"Ibu, ini yang nongol mau keluar air ketubannya, jadi terasa ada yang ngajak mau keluar. Air ketubannya nonjol banget nih bu."

Disitu saya ngerasa kayaknya udah pembukaan 10 deh, tapi bidannya serasa mengulur-ulur waktu dan meminta untuk saya fokus ke pernafasan untuk tiup-tiup cepat (panting), supaya gak fokus kepada mengejan. Karena kalau mengejan sebelum waktunya dikhawatirkan vagina saya bisa robek.

Dokternya sungguh lama sekali datang! Akhirnya  sekitar jam 3an dokternya pun datang juga. Saya disuruh terlentang dengan kedua kaki dibentangkan ke kiri dan kanan. Saya mulai dipandu untuk angkat kaki kiri dan kanan dengan menggunakan tangan.

"Ibu, dokter sudah datang, pembukaan sudah lengkap, 10, yuk kita mengejan!"
"Tarik nafas yang panjang, lalu mengejan kayak pup yang keras ya bu! Dalam 3x nafas ya!"

Disini kocak banget. Saat senam hamil, untuk pose yang ini sering banget dilatih, karena memang concernnya pose yang ini dipakai saat persalinan. Saking hapalnya, saya saat disuruh mengejan, saya malah tiup, hahaaha..kebalik!

"Ibu, jangan ditiup, jangan dibuang nafasnya bu, dipakai buat mengejan ya. Itu kepala dedenya udah nongol mau keluar. Ayo ibu!"
(Duh saya lupaaa, hahaa.. tiga kali nafas dalam, tiga-tiganya saya buang semua 😂). Alhasil yang tadinya harusnya hanya 3x tiupan, malah jadi 5x 😂

Alhamdulillah jam 3.40 WIB Carissa Masayu lahir ke dunia, dengan panjang 49 cm, berat badan 3,55kg.


Rissa (demikian panggilan untuk anak kami), sekalian dilafalkan adzan, dibersihkan dari lemak-lemak, dilakukan IMD, kemudian pemotongan ari-ari (sekitar 10 menit setelah persalinan).



Setelah itu saya disuruh pindah ke ruang perawatan.



Yang tadinya saya udah persiapan mau foto OOTD dulu terakhir sebelum persalinan, yah yang ada jalan aja saya penuh perjuangan dari tempat parkiran sampai ruang bersalin, boro-boro kepikiran mau foto OOTD, atau mau ngevlog 😂

Jujur, baru kali ini saya ngerasain gimana rasanya persalinan normal. Karena 2x persalinan sebelumnya kan saya diinduksi, jadi saya tahunya ya sakit karena induksi itu. Ya kalau ditanya sakitan mana, ya sama-sama sakitlah, namanya proses persalinan?

Bidannya sempet heran, ini kenapa prosesnya cepat sekali, dari jam 1.30 sampai jam 3? 😁 Gak cuma bidannya, tapi bagian administrasi juga kaget luar biasa. Suami baru datang jam 1an untuk urus administrasi, jam 3an urus lagi buat kamar perawatan 😂

Suster yang mengantar saya ke ruang perawatan, sempet bilang, "Bu, kalau lahiran cepet gini, jadi gak kapok kan buat hamil lagi?" Hah, maksudnya saya hamil lagi gitu? 😂

30 Maret 2019

Saya dan Rissa alhamdulillah dinyatakan sehat, Rissa juga billirubinnya 10, kami bisa pulang, asalkan setiap pagi harus dijemur dibawah jam 9 pagi.


Bapak yang sedang berbahagia 🥰

Sekarang saya jadi tahu kenapa saya bisa lahiran normal dengan proses yang begitu cepat.

Tanggal 28 Maret 2019 jam 8 malam itu, saya sempat bilang ke Carissa waktu itu seperti ini :

"Nak, kamu mau lahiran kapan? Besok aja gimana? Besok mami mau diinduksi. Mami takut sebenernya, mami takut sakit. Jadi nanti bantu mami ya prosesnya jangan lama-lama, supaya mami, mas Narend and daddy bisa segera ketemu kamu, nak."

Sebenarnya sih kata-kata afirmasi seperti ini hampir tiap minggu saya ucapkan. Tadinya saya maunya lahiran saat usia kandungan 38 atau 39 minggu saja. Tapi ternyata Rissa maunya saat 40 minggu 😁

Moms, ternyata beneran efektif lho moms semua teori yang ada, seperti :
🐾 Kasih afirmasi positif dan ajak janinnya berbicara mau lahiran kapan.
🐾 Kasih nickname sebelum lahiran, jadi bisa menguatkan bonding antara ibu dan janinnya. Janinnya sudah bisa mendengar apa curhatan ibunya kok.
🐾 Jangan pernah stres, terus berpikiran positif, bahwa proses lahiran itu sakit yang membawa bahagia.

Akhirnya tiba juga di penghujung tulisan saya. Maaf ya buat yang membaca kepanjangan. Lagi semangat menulis, sekalian dokumentasi supaya gak lupa proses persalinannya Rissa itu seperti ini adanya 😉

Semoga artikel ini bermanfaat ya moms.


1 comment:

  1. selamat ya atas kelahiran putrinya semoga menjadi anak yang sholehah dan berbakti apda agama dan ortunya

    ReplyDelete

Bookmark Us

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

The Urban Mama

Mau email update seputar MPASI ?

Siapa sih bunda Oline?

Artikel yang banyak dibaca Bunda

Nyari Seputar apa Bunda ?

Menu Utama

Copyright © Mommy's World | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com