My world about breastfeeding and parenting

Monday, October 17, 2016

Moms, Yuk Ajak Anak Untuk Mengenali Musik dan Tari Untuk Jadi Pribadi Yang Peduli Pada Lingkungannya


"Saya yakin pasti setiap orangtua pasti menginginkan anaknya tumbuh hebat dan cerdas. Cerdas secara emosional maupun kognitifnya. Karena anak yang cerdas dan hebat akan memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap sesamanya"
Hari Minggu, 9 Oktober 2016, bertempat di Sleepyhead Coffee Shop di daerah Gunawarman, Jakarta, saya menghadiri sebuah acara blogger gathering bersama Bebelac. Ohya, tema acaranya adalah Sunday Brunch with Bebehero Hi-5.

Menuju lokasi Sleepyhead Coffee saya membutuhkan bantuan maps, terlebih lagi saya tidak bisa menghafal lokasi persisnya cafe-cafe yang ada di Jakarta Selatan. Dan coffee shop ini juga sebenarnya mudah dijangkau, tapi tulisan atau petunjuk nama cafenya tidak kelihatan dari jauh, jadi harus agak pelan-pelan saat mendekati lokasi ini.

Sebelum sampai ke cafe ini saya sudah browsing terlebih dahulu, lokasinya bagaimana dan penampakannya seperti apa, ternyata cafe ini interiornya homy banget. Pantes aja dari jauh gak kelihatan seperti coffee shop. Karena memang cafe ini didesain persis kayak rumah sendiri. Jadi berasa  ngopi di rumah sendiri :)

Oke, saat saya sampai ke lokasi, semua bernuansa kuning and orange, cerah ceria! Langsung deh saya ditodong untuk foto-foto booth disini :)


Acara gathering kali ini kelanjutan dari campaign Grow Them Great BebeHero Hi-5, yang sudah pernah diluncurkan pada Maret 2016 lalu. Dan kali ini Bebelac ingin mengajak para mommies untuk berbagi cinta melalui tarian L.O.V.E yang dapat menstimulasi kecerdasan (IQ) dan rasa peduli anak (EQ) sejak dini.

Nara sumber yang hadir adalah seorang Psikolog dari Rumah Dandelion, yaitu Mba Nadya dan Mba Agstried. Serta mba Andri Airin (atau yang akrab disapa Ririn), Marketing Manager Bebelac, PT. Nutricia Indonesia Sejahtera.


Mba Ririn membuka sesi sharing ini dengan menjelaskan bahwa Bebelac bukan hanya susu yang berkualitas tapi juga concern kepada bonding dengan anak. Jadi melalui campaign inilahwaktu yang pas untuk bisa mendekatkan diri dengan anak.

Sharing kedua yaitu dari Mba Nadya. Mba Nadya melemparkan pertanyaan kepada ibu-ibu yang hadir, "Apa yang menjadi kriteria menjadi anak hebat?" Rata-rata ibu-ibu yang menjawab yaitu anak yang bisa mandiri, bisa berkomunikasi, pintar secara akademis, tanggap dan peduli terhadap sosialnya.



Kalau menurut para expert, anak yang hebat adalah anak yang berkembang sesuai dengan usianya. Misalnya, usia  6 bulan sudah bisa bubbling, usia 1 tahun sudah bisa berjalan, sudah bisa memasukkan bola ke keranjang, usia 2 tahun sudah bisa berbicara, atau usia 3 tahun sudah bisa menggambar, dan menulis, dsb. Itu yang dimaksud dengan anak yang hebat menurut para ahli. Motorik dan kognitifnya berkembang sesuai dengan usianya. Tapi justru  yang lebih sulit dipantau oleh orangtua adalah sisi kognitif dan psikososialnya.


Kognitif Sertai dengan Contoh Kongkrit

Mba Nadya bilang bahwa anak akan lebih sulit dalam hal kognitif, misalnya dalam hal berhitung. Biasanya para orangtua mengajarkan kepada anak, 1+1 = 2 (secara angka), tapi mba Nadya menyarankan jika kita ingin mengajarkan berhitung pada anak, sebaiknya sertakan wujudnya. Misalnya 1 bola ditambah dengan 1 bola = menjadi 2 buah bola. Kalau bisa, kita pakai gerakan fisik juga. Supaya anaknya itu bisa dengan mudah mengingatnya.

Lalu contoh yang lain kita mengajarkan posisi makan yang baik pada anak, kita contohkan juga contoh kongkritnya seperti apa.

Ajarkan Anak Untuk Mandiri

Lalu untuk anak berusia 1,5 - 3 tahun bisa diajarkan untuk mengambil sepatunya sendiri atau mainannya sendiri. Dengan rasa mandiri itu akan memberikan kepercayaan dirinya. Saya pribadi sebagai orangtua sudah mengajarkan kemandirian untuk Narend sejak usianya masih 1 tahun. Di usianya 2,5 tahun ini, alhamdulillah dia sudah bisa mengambil dan memakai sepatunya sendiri.



Sebisa mungkin di usia-usianya berikan kemandirian pada anak untuk melakukan aktivitasnya sendiri. Buat para mommies yang tidak tahu tentang tabel perkembangan anak, bisa langsung googling aja yah. Karena ini penting banget untuk kita tahu. Karena jika ada keterlambatan, bisa lansung segera dicari tahu penyebab serta solusinya.

Anak yang tidak dibiasakan mandiri, nantinya saat ia menginjak masa sekolah, akan sangat menyita perhatian kita sebagai orangtua. Anak kita gak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya, harus ditemani orangtuanya, tidak berani maju ke depan saat disuruh oleh gurunya, tidak berani bernyanyi di depan kelas, dan sebagainya. Saya jadi ingat anak teman saya sudah berusia 6 tahun masih ditemani orangtuanya masuk ke kelas. Atau juga ada anak yang usianya sudah 3 tahun, tapi masih makan berwujud bubur. Ini pengalaman pribadi, saat saya ke sekolah dekat rumah, waktu itu saat ingin trial school untuk Narend, disana ada anak usia 3 tahun dengan babysitternya, dan sedang disuapi oleh baby sitternya, lalu saya tanya, makannya kenapa masih bubur, dan anaknya usia berapa? Saya kaget anaknya sudah 3 tahun tapi makannya masih saja bubur, bukan berupa makanan padat. Kata babysitternya, ini karena sejak usia 6 bulan sampai sekarang (3 tahun), anaknya selalu muntah saat disuapi makanan padat, maunya bubur terus. Jadi si babysitternya itu selalu blender makanannya dulu, baru diberikan ke anaknya. Saya bilang, "Wah repot juga ya sus? Nanti kalau sudah masuk usia TK gimana makannya?" Babysitternya hanya tersenyum aja ke saya.

Yah hal-hal simple itulah yang sebenarnya hal simple tapi kita sebagai orangtua wajib tahu dan wajib mau tahu apa penyebab dan solusinya. Kalau mau dituruti, dulu juga Narend saat usianya 6 bulan dia gak mau makan makanan padat, selalu dilepeh. Tapi saya gak patah semangat, saya terus berusaha. Alhasil sampai usianya 1 tahun dia udah bisa makan nasi, bukan makanan padat lagi. Ini artinya si anak sudah bisa belajar mandiri dan sudah berkembang sesuai dengan usianya.

Mba Nadya bilang, di usia 3 tahun muncullah usia yang berinisiatif. Jadi bila di usia 3-5 tahun tidak ada kepercayaan diri, dia akan merasa bersalah. Misalnya kalau ajak anak ke taman bermain kita bisa lepas si anak sendiri supaya anak kita bisa mandiri. Wah, kalau saya mah, si Narend gak perlu disuruh udah mau lari and jalan sendiri ke taman bermain, apalagi kalau dia lihat ada temannya bermain :)

Doc : Pribadi

Ajarkan Anak Untuk Merasa Bersalah

Sebisa mungkin kita berikan kebebasan pada anak untuk mencoba sendiri dan kita pantau dari jauh. Ajarkan juga anak untuk merasa bersalah, lalu berikan penjelasan dan segera untuk minta maaf. Ini sering banget saya alami dengan Narend. Contoh kasus, Narend sering banget lempar-lempar barang, trus barangnya jatuh menimpa saya. Saya kesal bukan main, selain kepala saya sakit, dan juga saat itu saya lagi kerja, kerjaan saya jadi berantakan semua. Akhirnya saya berbicara ke Narend dengan nada agak keras, bahwa hal tersebut TIDAK BOLEH DILAKUKAN lagi, dan saya minta untuk dia berjanji tidak mengulanginya lagi. Walaupun hal itu sia-sia, alias dia bakalan ngulangin lagi, at least saya sudah mengajarkan kepadanya bahwa kalau seperti itu lagi akan merugikan oranglain, dan mengenai oranglain jadi sakit (tentunya dengan bahasa seusianya ya). Dan saat itu juga saya minta dia untuk segera meminta maaf.

Kalau mengajarkan kepada anak, tidak perlu panjang lebar kalimatnya, tapi cukup pendek saja, tegas, dan singkat. Anak seusia Narend belum bisa mencerna kalimat yang terlalu panjang. Jadi point per point saja (yang penting-penting saja). Ini yang saya dapatkan pelajaran dari sekolahnya Narend. Maksimal Narend bisa mencerna kata dalam 1 kalimat adalah 3 kata.

Jadi jangan melarang anak tanpa penjelasan ya moms. Jadi gak boleh asal melarang, ini, itu, tapi sertakan juga penjelasannya apa, supaya si anak juga tahu alasannya tidak boleh kenapa. Anak-anak yang selalu dikekang atau dilarang nantinya akan berakibat menjadikannya pribadi yang malu.

Usia 2 tahun harus disekolahkan?

Mungkin ada diantara mommies yang bertanya seperti itu. Saya juga pernah dapat pertanyaan dari teman-teman saya, kenapa Narend sudah disekolahkan di usianya 2 tahun ini? Saya sudah pernah sharing sebelumnya, bahwa Narend mengalami speech delay di usianya, seharusnya sudah ada 3 kata yang dia bisa. Tapi nyatanya hanya 1 kata saja, dan belum mencapai 100 kata. Itu artinya Narend harus banyak bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Hampir setiap minggu saya mengajaknya aktivitas outdoor, ternyata itu belum cukup. Narend harus berbicara, berinteraksi dengan teman yang sebayanya, bukan dengan orangtuanya atau orang yang lebih tua darinya. Itulah mengapa di usianya yang 2 tahun kemarin saya sudah menyekolahkannya.

Menurut para expert, kalau belum mau sekolah sebenarnya tidak apa-apa, paling tidak ada interaksi 'playdate' dengan anak lain. Kalau memang mommies setiap hari anaknya bertemu dengan teman sebayanya, yah tidak apa-apa. Tapi usahakan ada playdate ya moms. Ya, setiap hari. Alhamdulillah Narend sejak ia sekolah, ia jadi anak yang mandiri, kosakatanya juga bertambah, sudah bisa bersosisalisasi, dan sebagainya.

Lalu sharing kedua yaitu dari mba Agstried.



Mba Agstried menambahkan pentingnya playdate harus dibiasakan pada anak. Sekarang kita bahas tentang Multiple Intelligence yuk.

Multiple Intelligence


Sudah tahu kan ya, bahwa ada 8 tipe Multiple Intelligence? Dan anak-anak kita itu memiliki diantara Multiple Intelligence itu. Ada anak yang tipenya observasi dulu, atau ada yang langsung SKSD kepada anak-anak lain. Kalau narend itu tipenya observasi dulu. Kalau masuk ke lingkungan baru, dia akan mengamati dulu lingkungannya, kalau sudah 'tune in', sudah merasa nyaman, baru deh dia bersosialisasi dengan lingkungannya.

Contohnya seperti ini, ada anak yang cerdas secara interpersonal dan juga intrapersonal.


Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dan gabungan keduanya (interpersonal dan intrapersonal) akan menghasilkan anak yang empati #GrowThemGreat.

Berikan waktu pada anak untuk mengekspresikan emosinya. Anak akan bisa mengenali emosinya, melabelkan emosinya. Contohnya seperti ini, saat anak kita tantrum, berikan waktu pada anak untuk mengekspresikan emosinya. Jika sudah selesai, kita ajak dia untuk berdiskusi lagi. Jangan lupa kita jelaskan juga solusinya dan konsekuensinya pada saat anak tantrum ya.

Anak yang memiliki kecerdasan kinestetik biasanya terampil untuk menggerakkan tubuhnya, contohnya dance LOVE itu.

Kecerdasan linguistik adalah contoh mengerti tentang menggunakan bahasa secara efektif.

Belajar matematika gunanya untuk belajar logika. Anak yang memiliki kecerdasan musikal saat mendengar musik langsung menari dan bergerak. tapi mba Agstried bilang, kecerdasan musikal sangat langka untuk yang tinggal di Jakarta. Karena keterbatasan waktu, karena semua serba digital, bernyanyi dan menari sudah sangat langka dilakukan.

Kecerdasan spasial adalah kecerdasan dalam berpikir, misalnya susah membaca maps. Dan biasanya sering dialami oleh para wanita, khususnya ibu-ibu. Hayo ngaku moms, diantara mommies ada yang susah membaca maps gak? :)) Karena biasanya para ibu memiliki  kecerdasan linguistik.

Anak yang berkonflik itu sebenarnya tidak masalah supaya anak juga tahu kalau ada masalah dengan sosialnya bagaimana solvingnya.

Kecerdasan di bawah ini perlu dimiliki oleh setiap anak. Stimulasi-stimulasi ini perlu kita perkenalkan pada anak supaya anak bisa mengeksplore dengan mengetahui bakatnya. Contohnya saat kita berbisnis adalah kecerdasan interpersonal yang dibutuhkan.


Mama Aie bilang, bahwa playdate itu penting banget, anaknya sekarang jadi peduli terhadap sosialnya, dan dia biasakan sejak anaknya berusia 3 tahun.


Anak kita boleh berbicara dan berinteraksi dengan orang asing selama itu tidak membahayakan.

Kecerdasan musikal dan kinestetik adalah yang paling dilupakan padahal bisa meningkatkan IQ dan EQ anak.


Untuk musik dan tari menjadi 2 kecerdasan yang paling diremehkan tapi paling penting untuk koordinasikan kecerdasan lainnya.

Mba Agstried bilang bahwa belajar itu harus dalam suasana yang menyenangkan supaya bisa meningkatkan konsentrasi anak. Sehingga meningkatkan kemampuan menghafal, mengeja, dan membaca. Menurut penelitian bahwa anak-anak yang bisa bermain musik akan terbantu meningkatkan konsentrasinya. Anak yang cepat frustasi akan menjadi grumpy, cepat marah, dan efeknya panjang.

Terkadang kita sebagai orangtua menyuruh anak kita untuk belajar dulu, baru sisa waktunya bermain. Tapi justru itu ajaran yang salah. Mba Nadya bilang bahwa anak harus diberikan aktivitas fisik dulu di awal, nanti sisa energinya dipakai untuk belajar. Jadi anak kita dibiarkan main dulu sampai capek, baru nanti sisa energinya bisa dipakai untuk konsentrasi belajar.

Mba Ririn menjelaskan bahwa kita harus mengajarkan emosi pada anak dalam kondisi apapun, baik sedih maupun bahagia.

Selanjutnya para mommy blogger diajak untuk menonton video. Video itu ada sepasang ice skater yang memeragakan yang cewenya ada masalah, yang cowonya langsung membantu. Makna dari video yang diputar tersebut adalah ada perasaan peduli terhadap sesama (lingkungannya). Dengan musik kita menjadi lebih mudah untuk konsentrasi.


Setelah menonton video, para mommy blogger diajak untuk self healing, yaitu memejamkan mata sambil membayangkan orang yang kita kasihi sambil mendengarkan sebuah lagu tersebut. Saat itu kebetulan lagu  yang diputar adalah Adele - Make You Feel My Love.



Di saat para mommy blogger lain memikirkan orang yang terkasih itu adalah anak-anak mereka, sepertinya cuma saya aja yang memikirkan sosok suami. Karena menurut saya, saya wajib banget berterima kasih kepada suami, karena suami saya adalah bagian terpenting dari hidup saya, mau menjaga Narend di saat saya sedang kerepotan atau sedang sibuk. Dia ada untuk saya :)

Selanjutnya adalah masuk ke sisi tantangan. Para mommy blogger diberikan waktu sekitar 15 menit untuk membuat sebuah video sesuai dengan topik yang diberikan. Kebetulan kelompok saya topiknya adalah menolong. Buat yang ingin tau videonya seperti apa bisa diintip disini ya.


Selesai sesi membuat lagu tersebut, akhirnya selesai juga sharing session bersama Bebelac. Wah saya seneeeng banget bisa hadir disini. Banyak banget ilmu yang saya dapatkan disini. Ternyata dengan musik bisa membuat anak cepat konsentrasi dan fokus terhadap pelajaran. Jadi sekarang saya mulai memperkenalkan musik kepada Narend deh :)

Acara ditutup dengan makan siang dan berfoto bersama.



Terima kasih Bebelac. Ditunggu event berikutnya ya :)

Ohya, kalau mau liat video saya dance L.O.V.E bertiga dengan suami, bisa kepoin di instagram saya ya. Liat saya nari-nari gitu deh *blushing*

Mommies juga bisa ikutan, menarikan L.O.V.E, karena ada lombanya nih. Pemenangnya bisa ikutan Meet and Greet dengan Hi-5 di Singapura. Seru kaaan? Yuks langsung cuss ke websitenya ya www.bebeclub.co.id.




2 comments:

  1. Waah sharingnya full ilmu nih kayaknya. Suasana gatheringnya hangat gt ya mba

    ReplyDelete
  2. Banyak ilmu yang didapet nih dari sharingnya mba oline, foto2nya juga oke :)

    ReplyDelete

Bookmark Us

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Search

The Urban Mama

Mau email update seputar MPASI ?

Artikel yang banyak dibaca Bunda

Nyari Seputar apa Bunda ?

Menu Utama

Copyright © Mommy's World | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com